Berita IKASTARA
 

Berita Terkini

Kisah Marsekal Pertama TNI AU, Wastum (TN 1)

by Admin

 

7 Jul 2022

Komandan Komando Sektor III Koopsud III, Marsekal Pertama TNI Wastum belajar menyetir mobil setelah mahir menerbangkan pesawat tempur F-16. Pria asal Cirebon tersebut merupakan peraih Adhi Makayasa Angkatan Udara 1996. Awalnya Wastum diminta oleh instrukturnya dulu bernama Tatang Harliansyah untuk menyopir mobil. Namun Wastum meminta agar temannya saja yang mengendarai mobil. "Wastum setelah terbang kamu yang nyupir ya," kata Wastum menirukan Tatang dalam akun Youtube Jenderal Andika Perkasa, Kamis (7/7/2022). "Saya bilang lebih baik teman saya sir. Terus Pak Tatang jawab saya mau kamu," imbuhnya. Usai mendengar jawaban komandannya, Wastum langsung memegang kunci mobil. Lagi-lagi, dia meminta agar temannya bernama Firmansyah yang mengendarai mobil. Bukan tanpa alasan, dia meminta temannya menyopiri mobil komandan. Sebab dirinya tidak bisa menyetir mobil. "Izin sir saya belum bisa nyupir, katanya justru saya ingin kamu yang nyupir," kata Wastum yang menirukan Tatang. Akhirnya dia menjadi sopir mobil komandannya. Ketika mobil sedang terparkir, dia juga bertanya kepada temannya bagaimana cara mengendarai mobil. "Waktu itu saya tanya temannnya, bagaimana ini mundur? Waktu itu mobil masih kopling belum matic. Pas tarik kopling (guncang), Pak Tatang bilang kamu terbang lepasnya halus, begitu sama, akhirnya bisa. Saya belajar nyupir setelah mahir terbang F-16," katanya. Read More
 
Filter

Berita Terkini

Kisah Marsekal Pertama TNI AU, Wastum (TN 1)

by Admin

 

7 Jul 2022

Komandan Komando Sektor III Koopsud III, Marsekal Pertama TNI Wastum belajar menyetir mobil setelah mahir menerbangkan pesawat tempur F-16. Pria asal Cirebon tersebut merupakan peraih Adhi Makayasa Angkatan Udara 1996. Awalnya Wastum diminta oleh instrukturnya dulu bernama Tatang Harliansyah untuk menyopir mobil. Namun Wastum meminta agar temannya saja yang mengendarai mobil. "Wastum setelah terbang kamu yang nyupir ya," kata Wastum menirukan Tatang dalam akun Youtube Jenderal Andika Perkasa, Kamis (7/7/2022). "Saya bilang lebih baik teman saya sir. Terus Pak Tatang jawab saya mau kamu," imbuhnya. Usai mendengar jawaban komandannya, Wastum langsung memegang kunci mobil. Lagi-lagi, dia meminta agar temannya bernama Firmansyah yang mengendarai mobil. Bukan tanpa alasan, dia meminta temannya menyopiri mobil komandan. Sebab dirinya tidak bisa menyetir mobil. "Izin sir saya belum bisa nyupir, katanya justru saya ingin kamu yang nyupir," kata Wastum yang menirukan Tatang. Akhirnya dia menjadi sopir mobil komandannya. Ketika mobil sedang terparkir, dia juga bertanya kepada temannya bagaimana cara mengendarai mobil. "Waktu itu saya tanya temannnya, bagaimana ini mundur? Waktu itu mobil masih kopling belum matic. Pas tarik kopling (guncang), Pak Tatang bilang kamu terbang lepasnya halus, begitu sama, akhirnya bisa. Saya belajar nyupir setelah mahir terbang F-16," katanya. Read More

Berita Terkini

Kisah Komandan KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355, Ferry H. Hutagaol (TN 5)

by Admin

 

22 Jul 2022

Komandan Satuan Kapal Eskorta (Dansatkor) Koarmada II, Kolonel Laut (P) Andri Kristianto, memimpin Serah Terima Jabatan (Sertijab) Komandan KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 yang berlangsung di Geladak KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 yang saat ini bersandar di Dermaga Semampir Timur, Surabaya. Senin (04/07). Komandan KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 diserahterimakan dari Kolonel Laut (P) Ludfy kepada Letkol Laut (P) Ferry H. Hutagaol. Acara sertijab diawali dengan penghormatan kepada pimpinan acara, persiapan serah terima jabatan, pengambilan sumpah jabatan, penanggalan, dan penyematan tanda jabatan, penandatangan berita acara, laporan resmi pelaksanaan serah terima jabatan, rangkaian sertijab berlanjut dengan penandatanganan pakta integritas, penanggalan tanda pangkat, laporan resmi dan penyerahan tongkat komando. Terkait kegiatan Sertijab ini, Dansatkor Koarmada II menyampaikan bahwa serah terima jabatan Komandan KRI merupakan wujud kepercayaan dan penghormatan dari pimpinan TNI Angkatan Laut yang diberikan kepada pejabat yang bersangkutan serta pemantapan manajemen organisasi di lingkungan Koarmada II agar tercipta semangat baru yang diharapkan mampu memberikan tambahan pengalaman bagi personil, disamping itu untuk pengembangan kepemimpinan sebagai improvisasi dan inovasi serta daya kreativitas sehingga dapat menghasilkan Output yang sesuai dengan tujuan dan sasaran dari organisasi.” ujarnya Selanjutnya Dansatkor Koarmada II menambahkan bahwa Sertijab adalah proses dalam rangka pembinaan organisasi dan personel guna mewujudkan kaderisasi kepemimpinan yang diharapkan mampu membawa ide-ide baru bagi organisasi melalui pemikiran yang lebih kreatif dan inovatif sebagai upaya menindaklanjuti arahan Pangkoarmada II, Laksda TNI Dr. T.S.N.B. Hutabarat., sekaligus sebagai implementasi dari program prioritas Kasal Laksamana TNI Yudo Margono, di bidang pengembangan SDM TNI AL yang unggul dan Profesional. Read More

Berita Terkini

Kisah Marsekal Pertama TNI AU, Wastum (TN 1)

by Admin

 

7 Jul 2022

JAKARTA - Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa melantik Marsekal Pertama (Marsma) TNI Wastum sebagai Komandan Komando Sektor (Dankosek) III Koopsud III TNI AU di Biak, Papua. Pria kelahiran Cirebon, 7 Agustus 1974 ini tidak menyangka jika dirinya akan menjadi tentara Angkatan Udara (AU) khususnya penerbang pesawat tempur F-16 buatan Amerika Serikat tersebut. ”Saya sebenarnya cita-cita dari kecil memang ingin jadi tentara. Cuma memang saya tidak tahu, mau jadi tentara apa karena yang ada di kampung kami Angkatan Darat. Bagi saya tentara itu adalah sosok tentara idaman,” ujarnya di akun YouTube milik Panglima TNI dikutip SINDOnews, Kamis (7/7/2022). Wastum menuturkan, semangatnya ingin menjadi tentara karena seringkali melihat Babinsa dan Danramil di kampungnya di Desa Ujung Gebang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon. “Danramil itu saya lihat kalau 17 Agustus saja, berdiri di samping Pa Camat. Saya dengan gegap gempita pakai baju pramuka mengibarkan bendera. Hanya lihat itu tentara sehingga saya ingin sekali menjadi tentara,” ucapnya. Berangkat dari tekad yang kuat tersebut, Wastum akhirnya berhasil masuk ke SMA Taruna Nusantara. Dari sinilah Wastum mulai mengenal Tentara Nasional Indonesia (TNI) terdiri dari tiga matra yakni Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU). Lulus dari SMA Taruna Nusantara, Wastum melanjutkan pendidikannya di Akademi Angkatan Udara (AAU). Setelah menempuh pendidikan selama empat tahun, Wastum akhirnya lulus dengan hasil sangat memuaskan. Wastum menyandang predikat lulusan terbaik AAU 1996 dan meraih Adhi Makayasa. ”Tidak ada bayangan saya untuk menjadi penerbang tempur. Saya dulu milihnya adalah Paskhas (sekarang Kopasgat) karena saya tahunya itu. Tapi begitu saya lulus menjadi yang terbaik. Alhamdulillah menjadi yang terbaik. Arah hidup saya berubah. Orang mengarahkan saya kamu yang terbaik. Kamu bisa menjadi penerbang. Kamu coba menjadi penerbang tempur. Akhirnya saya tes, dan saya lulus. Alhamdulillah,” katanya. Wastum pun mulai mengawaki pesawat tempur T50-i Golden Eagle buatan Korea Selatan. Bahkan, pada peringatan HUT ke-69 Kemerdekaan RI pada 2014 lalu, Wastum yang juga menyabet lulusan terbaik Sekolah Penerbang (Sekkbang) TNI AU yang saat titu berpangkat Letkol Pnb mengawaki pesawat tempur F-16 memimpin 32 pesawat tempur melakukan fly pass di atas Istana Merdeka, Jakarta. ”Saya dulunya hanya pilihan saya sebagai penerbang helikopter. Saya ingin menjadi penerbang helicopter karna tidak sanggup untuk terbang tempur karena apa? Karena tangan saya kasar. Saya itu pecangkul ulung,” tuturnya. Selama ini, sambung Wastum, dirinya hanya membantu orang tuanya mencangkul di sawah, menyiapkan ladang untuk bertani. Apalagi dirinya merupakan anak lelaki satu-satunya di keluarga. Bahkan, aktivitas kesehariannya itu dilakukan hingga dirinya mengikuti pendidikan di AAU. “Latar belakang itu saya tidak memilih penerbang tempur. Tapi nasib tidak ada yang tahu, begitu ada pemilihan dari bakat saya, dari terbang saya, nilai saya, saya masuk menjadi penerbang tempur dan itu penerbang F-16 pula. Waktu itu F-16 merupakan yang tertinggi sebelum ada Sukhoi,” ucapnya.Read More
Sekretariat IKASTARA
sekretariat@ikastara.or.id
Menara Bidakara 1 Lt.2 Jl.Gatot Subroto Kav. 71-73 Pancoran Jakarta Selatan 12870
© 2020 IKASTARA. All rights reserved