Profil Alumni

Simon Petrus Kamlasi (TN-1): Pengabdian untuk NTT

DUA puluh tiga tahun lalu, Simon Petrus Kamlasi (TN 1) kecil menenteng dua jeriken kosong berjalan menuruni bukit untuk mengambil air bersih.

Di lokasi berjarak 1,5 kilometer dari permukiman tempat tinggalnya terdapat sumber air Oemenu yang mengalir sepanjang musim. Oemenu juga menjadi satu-satunya sumber penghidupan bagi penduduk Desa Sunu, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Saban pagi dan petang atau pulang sekolah, Simon bersama anak-anak sebayanya pergi mengambil air ke sana. Beban dua jeriken berisi air masing-masing lima liter cukup membuat repot. Apalagi, mereka harus berjalan menanjak. Para perempuan membawa air dengan cara menjunjung di kepala.

Itu cerita lawas karena begitu tamat sekolah dasar (SD), Simon pergi ke kota kabupaten untuk melanjutkan pendidikan sampai ia diterima di SMA Taruna Nusantara di Magelang, Jawa Tengah, dan kemudian masuk Akademi Militer dan diwisuda pada 1996.

Tinggal jauh dari kampung membuat Simon tidak mengikuti lagi perjuangan kawan-kawannya di kampung. Pada 2014, Simon yang telah berpangkat letnan kolonel dan menjabat Komandan Detasemen Peralatan, Korem 161 Wirasakti Kupang, pulang kampung bersama keluarga. “Saya pulang kampung dan menyaksikan orangtua masih kesulitan air seperti dulu. Jangankan untuk mandi, air untuk minum saja sulit,” ujarnya, kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.

Kesulitan air bersih tersebut yang kemudian mendorong Simon menciptakan pompa hidraulik yang mampu mendorong air dari sumber di dataran rendah ke permukiman penduduk di dataran tinggi. Sebenarnya pompa hidraulik diproduksi di mana-mana, tetapi yang membedakan dengan pompa buatan Simon ialah pada konstruksi tabung dan klep.

Simon menempatkan klep di depan tabung, berbeda dengan pompa di pasaran yang menempatkan klep di belakang tabung. Klep terbuat dari karet, selain murah juga memudahkan dalam perawatan, sedangkan fluida (zat cair sebagai perantara pada pompa hidraulik) hanya menggunakan air. “Perawatan klep karet tidak sulit dan murah,” ujarnya.

simon2

Simon menuturkan penempatan klep di depan tabung mengadopsi sistem pengereman hidraulik pada meriam armed. Konstruksi ini telah mempertimbangkan resultan aksi dan reaksi, yakni tekanan air yang masuk terhadap dorongan balik dari angin tabung. Hal ini, katanya, demi kontinuitas gerakan sehingga pompa tidak membutuhkan energi eksternal.

Luncuran air dari bak pengirim dianjurkan setinggi minimal 5 meter melalui pipa penyalur ukuran diameter dua inci dan panjang antara 18-20 meter. Ukuran tersebut akan meningkatkan tekanan udara dalam tabung pompa sehingga menjadi pendorong air menuju ketinggian. “Mekanisme klep satu arah membuat air tidak akan kembali ke bak pengirim,” jelasnya.

Pipa yang terhubung ke bak penampung menggunakan ukuran satu inci. Jarak 500 meter dan 1,5 kilometer akan menghasilkan debit air yang berbeda-beda. Untuk debit air normal sebesar 22 liter per detik. “Debit air yang dihasilkan juga bergantung dari ketinggian bak pengirim atau ketinggian luncuran air ke pompa. “Setiap 10 liter input, 6 liter air terkirim ke bak penampung,” katanya.

Mekanika fluida
Simon mengisahkan bahwa inspirasi membangun pompa hidraulik muncul setelah ia membuka kembali pelajaran tentang teori mekanika fluida yang di dalamnya membahas hukum Pascal, Archimedes, dan kontinuitas Bernoulli. Hukum Pascal menyebutkan tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup diteruskan ke segala arah dengan sama besar.

simon petrus

Hukum Archimedes mengatakan suatu benda apabila dicelupkan ke dalam suatu sat cair, benda tersebut akan mendapat gaya ke atas sebesar berat zat cair yang dipindahkan, sedangkan hukum Bernoulli menyebutkan peningkatan pada kecepatan aliran fluida akan menimbulkan penurunan tekanan pada aliran tersebut.

Sejak itu, dengan bantuan bengkel milik rekannya, Simon kemudian menciptakan satu unit pompa menggunakan dana pribadi sebesar Rp15 juta. Pompa ini kemudian dipasang di sumber air Oemenu. Sekarang jerih payahnya sudah terlihat. Warga tidak saja memanfaatkan air untuk minum dan mandi, tetapi juga menanam tanaman hortikultura.

Mereka memanfaatkan lahan kosong di dekat rumah untuk menanam kacang panjang, kacang tanah, sawi, jagung, dan kol terutama untuk kebutuhan konsumsi serta dijual ke pasar tradisional. Karena banyaknya warga menggunakan air, belakangan kebutuhan air semakin bertambah. Sekarang ia memasang lagi satu unit pompa di sumber air yang sama. Dengan tambahan satu pompa, kini kebutuhan air bagi 1.000 keluarga di Desa Sunu terpenuhi. Sekarang wilayah gersang tersebut berubah menjadi hamparan hijau.

Sampai Februari 2015, ia sudah memasang 8 pompa di 7 titik di 3 kabupaten, termasuk di desa tersebut. Pompa lainnya antara lain dipasang di Desa Basmuti dan Bisene masing-masing berpenduduk lebih dari 1.000 keluarga, serta Desa Mamsena di Timor Tengah Utara. (M-6)

http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/9316/Sepercik-Air-di-Lahan-Gersang/2015/03/15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s