Wise

Forum Balairung dengan Seskab Andi Wijayanto

Idiosinkratik dan Keluar Dari Jebakan Organisasi: Leadership Insight dari SESKAB Andi Widjajanto

Penulis: Imam Subkhan

EDIT_UNI_8268

Meskipun sejak awal Andi Widjajanto sudah menyatakan tidak ingin berdiskusi ihwal politik, namun tampaknya diskusi “Leadership Insight” yang digelar PLF dan Ikastara Rabu malam (20/5) di Markas Garnisiun Jakarta tidak bisa lepas dari soal politik. Maklum saja Mas Andi, sapaan akrab Andi Widjajanto, merupakan orang penting dalam pusaran politik Istana. Dia menyebut dirinya bukan lagi berada di ring 1 istana, tapi di ring 0 istana karena posisinya yang harus selalu melekat dengan Presiden Jokowi. Nama Andi Widjajanto jauh sebelum masuk hingar bingar politik lebih dikenal sebagai pengamat militer dan intelijen, disamping sebagai dosen tetap Hubungan Internasional di FISIP UI. Pendidikannya cukup bergengsi, setelah menamatkan sarjana di FISIP UI beliau melanjutkan studi di London School of Economics (LSE), Inggris. Dia juga mendalami soal pertahanan di Industrial College of Armed Forces, Washington DC, Amerika Serikat.

Putra dari mendiang Mayjend (purn) Theo Syafie ini masih cukup muda untuk ukuran pencapaian karir saat ini sebagai Menteri Sekretaris Kabinet. Sebuah posisi strategis yang tidak pernah ia mimpikan dan ia cita-citakan. Ambisinya saat masih muda tidak muluk muluk yaitu harus lebih baik dari orang tuanya, seorang perwira tinggi militer yang disegani, lulusan AMNl 1965 dan sempat menduduki berbagai jabatan strategis di militer seperti Pangdam Udayana, Komandan Sesko, Panglima Divisi 1 Kostrad. Andi sadar bahwa satu-satunya cara untuk bisa melampaui pencapian orang tuanya adalah dengan pendidikan tinggi. Maka dari itu dia kemudian menceburkan diri dalam dunia akademik, kajian dan penelitian. Beliau terlibat aktif dalam penyusunan dan perumusan UU TNI dan UU Intelijen Negara.

Masuk Pusaran Politik
Keterlibatanya dalam dunia politik tentu saja tidak bisa dilepaskan dari ayahnya yang setelah pensiun dari militer memilih untuk terjun dalam politik melalui PDI Perjuangan. Theo Syafei merupakan orang kepercayaan sekaligus penasehat politik Megawati, Ketua Umum PDIP. Keterlibatan secara intensif Andi dimulai ketika Theo Syafie ditunjuk sebagai Steering Committee (SC) Kongres PDIP Tahun 2010 di Bali. Pada Andi lah kemudian Theo Syafie banyak meminta bantuan untuk merumuskan bahan-bahan kongres terutama berkaitan dengan substansi yang akan dibahas dalam kongres. Pada kongres Bali tahun 2010 ini, Megawati kembali ditetapkan sebagai Ketua Umum dan Tjahjo Kumolo sebagai Sekretaris Jenderal.

Selesai perhelatan kongres, Theo Syafie menghadap Megawati untuk menyampaikan niatnya untuk rehat dari hiruk pikuk politik. Selain masalah kesehatan, beliau juga merasa sudah cukup berumur dan saat itu waktu yang tepat untuk rehat. Tentu saja niat mundur dari Theo Syafie membuat Megawati sedikit gundah dan bertanya kepada Theo, kepada siapa lagi nanti dia akan meminta bantuan untuk membesarkan partai. Theo Syafie langsung mengarahkan telunjuk tanganya pada Andi yang kebetulan hadir dalam pertemuan itu sambil berujar, “kalau butuh bantuan,dia yang bisa bantu”.

Andi mengira itulah pertemuan terakhir dia dengan Megawati berdiskusi soal politik. Andi menganggap Megawati sudah lupa akan pertemuan itu dan diapun kembali pada kesibukan semula: meneliti, mengajar dan mengisi berbagai forum seminar. Sampai akhirnya pada April 2013 dia dipanggil oleh Megawati. Pertintahnya jelas, membantu ketua umum dan menyiapkan pemenangan untuk Pemilu 2014 dan Pilpres 2014. Dalam rangka menyiapkan itu semua, Andi kemudian membentuk tim pakar yang oleh media disebut Tim 11. Padahal sebenarnya anggotanya hanya 7 orang. Sengaja sebagai strategi intelijen agar lawan, bukan musuh, politik dan media sibuk mencari 4 nama lainnya. Kerja besar pertama yang dilakukan tim ini adalah menyiapkan dan mendampingi Jokowi dalam rakernas PDIP di Ancol pada bulan September 2013 sebagai ancangan awal. Setelah itu menyiapkan berbagai strategi pemenangan untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas Jokowi yang saat itu masih menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Sampai menjelang akhir tahun 2013, Megawati belum memberikan sinyal akan mengusung Jokowi sebagai capres meskipun dalam berbagai survei popularitas dan elektabilitas Jokowi melesat jauh melampaui pesaing lainnya. Saat itu margin elektabilitas Jokowi dengan pesaing utamanya dikisaran 20 persen. Tepat tanggal 25 Desember 2014 saat natal sepulang mendampingi Megawati makan malam di rumah Ahok, Megawati memberikan perintah kepada Andi untuk menempel Jokowi. Meskipun tidak ada ujaran eksplisit bahwa Jokowi akan dipersiapan untuk menjadi calon presiden, Andi memahami instruksi implisit dari kata “menempel” Jokowi. Kepastian Megawati menunjuk Jokowi sebagai calon presiden baru pada tanggal 12 Maret 2014, dan diumumkan secara resmi tanggal 14 Maret 2014 oleh Jokowi di rumah Si Pitung, Marunda, Jakarta.

Dalam kampanye Pilpres, Andi ditunjuk sebagai sekretaris tim kampanye untuk menyiapkan segala hal yang dibutuhkan dan diperlukan untuk memenangkan Jokowi-JK sebagai pasangan Capres dan Cawapres 2014-2019. Diluar berbagai ikhtiar dan strategi yang sudah dilakukan, takdir politik telah menggariskan Jokowi akhirnya memenangkan Pemilu Presiden dengan perolehan suara sebesar 70 juta lebih atau sekitar 53,5 %. Andi bersama dengan Hasto Kristiyanto, Anies Baswedan, Akbar Faizal selanjutnya menyiapkan tim transisi yang dipimpin Rini Soemarno untuk menyusun arsitektur kabinet dan garis besar program prioritas yang akan dilakukan Jokowi-JK pada masa pemerintahannya sebagai penjabaran dari Nawacita yang merupakan janji saat kampanye.

Menjadi Pejabat di Istana
Andi sebenarnya sudah menyiapkan diri untuk rehat dari politik setelah selama satu tahun lebih waktunya habis dalam perhelatan pemilu dan pilpres 2014 begitu kabinet kerja dilantik oleh Jokowi tanggal 27 Oktober 2014. Bahkan dia bersama keluarganya sudah merencanakan akan liburan sejenak. Namun pada saat menyampaikan izin pada Jokowi, dia diminta untuk tetap di Jakarta dalam satu minggu ke depan dan diluar dugaanya Presiden Jokowi kemudian menunjuk dia sebagai Menteri Sekretaris Kabinet (Menseskab). Padahal dalam arsitektur kabinet yang disusun oleh Tim Transisi, posisi, tugas, fungsi dan wewenang sekretaris kabinet akan dilebur dalam Sekretaris Negara dan Kantor Staf Kepresidenan. Maka tidak mengherankan jika Andi sebagai Menseskab baru dilantik pada tanggal 3 November 2015 secara tertutup dan singkat dan pada hari itu juga dia mengikuti sidang kabinet paripurna pertama.

Dari sinilah kemudian Andi memahami bahwa jalan hiduplah yang menuntun dia jadi pemimpin. Dia tidak pernah menyiapkan diri secara khusus untuk menjadi pemimpin sebagaimana pemimpin militer yang harus melewati posisi tertentu secara berjenjang sebelum menduduki posisi di atasnya. Misalnya seorang Dandim harus pernah memagang bataliyon dan seorang Pangdam pernah menduduki posisi Danrem dan Dandim begitu seterusnya. Apalagi organisasi yang dia masuki sama sekali baru bagi dia, termasuk orang-orangnya. Latar belakang pendidikan dia juga sebenarnya tidak terlalu relevan dengan tugas sekretaris kabinet. Dia mengaku seorang yang sangat spesialis dalam bidang ilmu militer dan pertahanan, misalnya dia mampu mengenali sistem persenjataan militer seperti tank dari rodanya saja, diproduksi negara mana, tahun berapa dan kemampuan tempurnya.

Tugas sekretaris kabinet itu mengurus negara dengan bentangan isu yang sangat luas. Pagi hari rapat soal alutsista, siangnya bicara soal KPK, sorenya mendiskusikan PSSI dan malamnya menerima pengurus Badan Amil Zakat. Fungsi dia sebagai jalur komunikasi, bukan pengambil kebijakan. Presiden dan para menteri teknis lah yang memiliki kebijakan. Itu saja membuat Andi pada masa-masa awal cukup kelimpungan. Dia tidak membayangkan bagaimana beban dan kepusingan seorang Presiden dengan setumpuk persoalan dan semuanya harus dia putuskan kebijakannya. Dengan kesibukan yang sangat padat hampir-hampir dia tidak memiliki waktu bersama keluarga dalam tujuh bulan terakhir. Andi masih ingat sejak dilantik baru dua kali dia off dari tugas sekretaris kabinet, pertama pada perayaan tahun baru dan imlek dimana saat itu Presiden Jokowi sedang berada di Solo. Bahkan saat natal pun dia terpaksa tidak bisa merayakan bersama keluarga karena harus mendampingi Presiden. Andi ingat betul emergency call pertama yang dia terima adalah dari Menteri Perdagangan. Saat itu Mendag menelpon dia jam 01.30 dini hari menyampaikan bahwa keadaan sedang genting. Andi lantar bertanya ada kegentingan apa? Dalam persepsi dia genting itu ada pasar yang dibom. Mendag kemudian menjelaskan harga cabe meroket menjadi Rp 100 ribu per kilo di pasar induk.

Presiden Jokowi kata Andi tidak pernah jeda meskipun hari libur. Dia tidak mengenal hari libur, tanggal merah, yang Jokowi kenal hanyalah jam, nanti, dan besok. Rapat jam berapa, nanti bertemu siapa, dan besok kunjungan kemana. Pernah suatu hari dia ditelpon oleh ajudan presiden jam 24.00 setelah dia baru saja menyelesaikan pekerjaanya. Pak Presiden meminta rapat terbatas jam 08.00 pagi. Seketika itu Andi lansung menghubungi semua Menteri yang diundang untuk hadir. Kebetulan Wapres Jusuf Kalla baru bisa dihubungi jam 06.30. Saat dihubungi Pak JK baru saja tiba di lapangan golf untuk memulai. Ritme kerja di Istana sangat cepat, dan padat.

Menariknya kemampuan fisik Presiden Jokowi luar biasa dalam menjalani aktifitasnya. Padahal dia tidak pernah sarapan. Setiap pagi dia hanya meminum segelas jamu temulawak yang disiapkan oleh istrinya, Iriana dan dia dapat melakukan aktifitas yang seabreg hingga makan siang yang kadang-kadang baru dilakukan menjelang sore. Rekor makan siang Jokowi saat dia mendampingi adalah jam 17.30. Bahkan ketika kunjungan luar negeri sekalipun, Jokowi hanya memakan sebutir atau beberapa butir buah seperti anggur, kelengkeng atau sepotong pisang. Kebetulan dalam pembagian tugas istana, Andi ditugaskan Jokowi mendampingi dia saat kunjungan ke luar negeri. Sementar untuk kunjungan dalam negeri, Mensesneg, Prof. Pratikno yang mendampingi. Sehingga dia tahu persis keseharian Jokowi selama di kunjungan ke luar negeri.

Idiosinkratik dalam Kepemimpinan
Meskipun orang baru di sekretariat kabinet yang membawahi sekitar 400 orang dengan para pejabat eselon yang umurnya jauh lebih tua dari dia, Andi memiliki kiat yang bisa jadi cocok untuk kita atau sebaliknya. Sebagai pemimpin yang masuk organisasi baru dia menerapkan tiga hal. Pertama, berfikir rasional tentang organisasi. Organisasi itu memiliki cara berfikir sendiri yang bersifat rasional dengan beragam prosedur dan mekanisme. Berfikir rasional umumnya dimulai dari mengungkapkan masalah, mengidentifikasi kriteria, melakukan pembobotan kriteria berdasarkan kepentingan, mengemukakan aneka alternatif, memeringkat setiap alternatif pada setiap kriteria, dan mempertimbangkan keputusan yang dipilih. Kalau kita berfikir rasional dalam organisasi baru maka kita relatif aman dan keputusan yang kita ambil relatif efektif.

Namun itu tidak cukup, oleh karena itu yang kedua kita harus mengenali strukturnya. Setiap organisasi apalagi birokrasi memiliki struktur tersendiri dengan beragam tugas, fungsi dan kewenangan. Struktur ini perlu kita kenali dalam rangka memetakan kewenangan dan kompetensi yang dibutuhkan kita dalam mengelola organisasi itu. Di luar dua hal di atas menurut Andi justru yang sangat penting adalah hal ketiga yaitu kemampuan idiosinkratik (idiosyncratic) yaitu kemampuan mengenali keunikan, kekhasan setiap individu dalam organisasi. Istilah ini awalnya banyak dipakai dalam kajian linguistik dan kedokteran, namun kemudian meluas dipakai dalam kajian ekonomi, sosiologi, antropologi dan psikologi.

Andi mencontohkan bagaimana kemampuan idiosinkratik ini diterapkan ketika Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim bertemu dengan Obama sampai dia ditunjuk oleh Obama sebagai Presiden Bank Dunia. Kebetulan dia mendengar langsung cerita ini dari Kim ketika melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi. Kim merupakan presiden Bank Dunia pertama yang berlatar belakang dokter dan antropologi. Dia menyelesaikan M.D. di Harvard Medical School tahun 1991, and PhD Anthropologi di Harvard University. Presiden Bank Dunia sebelumnya rata-rata berlatar belakang sebagai ekonom, pengacara, politisi dan banker. Ketika bertemu dengan Obama, Kim dengan sangat detail menjelaskan dan mengapresiasi disertasi Ibu Obama, Ann Dunham yang berjudul “Peasant Blacksmithing in Indonesia: Surviving and Thriving Against all Odds“ di program Antropologi University of Hawai. Tentu saja ini membuat Obama kagum ada orang yang mengapresiasi karya ibunya dan mampu menjelaskan kontribusi penelitian Dunham bagi pembangunan di negara-negara ketiga. Tidak sampai lima belas menit setelah pertemuan itu, Obama langsung menominasikan Kim sebagai Presiden Bank Dunia pada Maret 2012.

Idiosikratik inilah yang banyak diterapkan Andi ketika awal memimpin sekretariat kabinet. Dia sudah faham bahwa para pejabat di sekretariat kabinet dulunya dianggap sebagai orang atau pendukung pemerintahan yang lalu. Namun dia justru memilih mempertahankan mereka, sementara di kementerian/lembaga lain dilakukan restrukturisasi besar-besaran. Andi tidak terlalu bergantung pada organisasi dan struktur. Dia juga aktif di berbagai organisasi namun tidak untuk terjebak dalam organisasi. Keaktifannya justru dalam rangka mengenali organisasi agar tidak terjebak dalam organisasi. Dengan tidak terjebak pada organisasi maka kita bisa melakukan berbagai terobosan, berfikir di luar keumuman dan berinovasi secara berkelanjutan.

Andi merasa para pejabat di Sekretariat Kabinet adalah orang-orang yang ahli dan berpengalaman di bidangnya masing-masing, dan mereka manusia biasa yang memiliki keluarga, istri dan anak tanpa menjelaskan lebih detail maksudnya. Tinggal bagaimana kita membuat mereka mau dan loyal bekerja untuk Menteri barunya. Membuat kawan kita mau bekerja untuk kita merupakan hal biasa, tapi menjadikan lawan kita mau bekerja dan loyal untuk kita baru luar biasa. Cara galib yang ditempuh untuk membuat lawan mau bekerja untuk kita biasanya adalah dengan mengakomodir kepentingannya, memberikan penghargaan, hadiah dan lain sebagainya. Andi menjelaskan cara lain yang terinspirasi dari teori Ben Franklin Effect, yaitu untuk membuat lawan kita mau bekerja untuk kita adalah dengan meminta mereka melakukan hal-hal kecil dan sederhana untuk kita secara terus menerus. Misalnya menyalakan rokok, membuatkan kopi dan lain sebagainya. Jika itu berlangsung terus menerus maka dalam peta kognitifnya akan tertanam kesadaran bahwa jika kita baik sama dia, maka dia akan berbuat baik juga sama kita. Jika kita menolong dia, maka dia akan menolong lebih pada kita.

Jokowi dalam pandangan Andi memiliki kemampuan idiosinkratik yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Dia sangat memperhatikan hal-hal kecil, unik dan khusus setiap orang yang dia kenali. Jokowi sadar bukanlah lahir dari kalangan ningrat politik atau pejabat. Dia juga bukan ketua umum atau elit partai politik. Maka dari itu yang dia andalkan adalah jejaring. Maka dari itu Andi tidak terlalu khawatir dengan hubungan diplomatik Indonesia dengan Australia yang sempat memanas akibat hukuman mati atau dengan Tiongkok yang sempat menegang akibat gencarnya pemberantasan illegal fishing. Andi melihat Jokowi memiliki kedekatan dan keakraban personal dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, PM Australia Tony Abbott, PM Malaysi Najib Razak dan pemimpin negara lainnya.

EDIT_DND_8202

Inside Politik Istana
Dalam pidato politik pada HUT PDIP ke 42 tanggal 10 Januari 2015, Megawati memberikan pesan secara khusus kepada Jokowi, “Sebelum Ir Jokowi ini dilantik sebagai Presiden, saya secara khusus mengingatkan, agar jangan melihat Istana dari sisi megahnya, dari sisi terangnya saja. Tetapi lihatlah juga sisi gelapnya, kenalilah sisi gelap itu”. Andi baru memahami apa yang dimaksud Megawati sebagai sisi gelap istana setelah dia masuk sebagai Menseskab. Maka dari itu tidak ada mantan Menseskab yang membikin memoar jabatan atau menuliskan semacam biografi selama menjabat. Alasannya cuma satu, he knows too much, dia terlalu tahu banyak. Jika apa yang dia ketahui dipublikasikan, negara akan bubar kata Prof Pratikno kepada Andi dalam sebuah kesempatan.

Tidak semua yang ada dimedia adalah realitas. Politik itu persepsi, bukan kenyataan dan persepsi itu adalah opini yang dikendalikan media. Saat ini tidak ada satupun kekuatan yang mampu memegang kendali sepenuhnya media. Media sudah punya framing sendiri menyangkut isu-isu politik yang sedang menghangat, misalnya pada minggu-minggu ini media punya framing soal reshufle kabinet. Maka isu itulah yang selalu ditanyakan dan diframing oleh media dalam berbagai pemberitaan. Oleh karena itu Menseskab harus siap menjadi bemper presiden dan para menteri teknis. Tidak masalah Andi dicaci maki dan disalahkan oleh publik, media dan para lawan politik, yang penting tidak mengarah ke presiden dan para menteri teknis. Dan itu merupakan bagian dari resiko pekerjaan. Dia memandang jabatan Menseskab sebagai sebuah pekerjaan saja yang siap dia lepas kapan saja.

Menjadi sekretaris kabinet, meskipun dia bukan politisi dan pengurus politik, hantaman dan musuh politiknya semakin banyak. Sebagai sekretaris Tim Penilai Akhir (TPA) dia akan selalu dimusuhi oleh orang-orang dan kelompok kepentingan yang kandidatnya tidak diloloskan. Setiap pejabat eselon I yang diusulkan presiden ada 3 orang, dan hanya 1 yang dipilih. Artinya dua orang lainnya kemungkinan memusuhi atau menyalahkan dia. Apalagi pejabat BUMN yang diusulkan 5, dan hanya 1 orang yang dipilih. Padahal ada ratusan jabatan eselon 1 dan BUMN.

Jokowi juga menyadari bahwa saat ini musuh-musuh dia semakin banyak terutama mereka-mereka yang terganggu kepentingan dan sumber daya ekonominya. Presiden Jokowi tengah gencar-gencarnya melakukan pemberantasan mafia di berbagai sektor seperti migas, beras, pencurian ikan, dll. Pemerintah menargetkan ada 18 sasaran yang akan dibenahi, namun baru enam yang digarap anasir-anasir jahat langsung melakukan konsolidasi masif untuk menghadang dengan berbagai cara kotor. Sebagai gambaran saja dia menjelaskan di sektor perikanan setiap hari ada 7000 ribu kapal ilegal yang beredar di perairan laut Indonesia dengan omzet setiap hari 20-30 miliar. Mereka bukan hanya mencuri ikan dan dibawa lari melewati laut internasional, namun juga memanfaatkan nelayan-nelayan lokal untuk menampung BBM subsidi yang mereka jual untuk digunakan berlayar. Maka tidak mengherankan jika mereka mau mengeluarkan berapapun untuk menyuap para pejabat. Menteri Susi melaporkan dia sempat ditawari uang Rp 5 triliun asal dia mundur dari Kabinet.

Meskipun hanya dua jam berdiskusi, Andi Widjajanto banyak memberikan pencerahan bagaimana politik itu bekerja, dan kemampuan personal yang dibutuhkan dalam sebuah kepemimpinan serta berbagai persoalan besar yang dihadapi bangsa. Tentu saja lagi-lagi berbagai pengalaman itu idiosinkratik, bisa jadi tidak cocok untuk diterapkan pada diri kita Namun setidaknya berguna untuk meluaskan cakrawala kita. Semoga.

EDIT_UNI_8252

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s