Kekerabatan dan Sinergi Alumni

Ikastara Sweet Escape, Sebuah Pelarian Para Ikastarans

Pada tanggal 24-26 Mei 2013 yang lalu, Ikastara PVJ mengadakan sebuah acara yang mempunyai nama iScape (Ikastara Sweet Escape). Acara ini merupakan sebuah acara outbond dengan tema Back to Nature serta Nostalgia.

Jumat, 24 Mei 2013

Berdasarkan jumlah peserta yang hadir, peserta dibagi menjadi dua kloter keberangkatan. Keberangkatan pertama adalah pada hari Jumat 24 Mei 2013. Peserta pada kloter pertama ini ternyata hanya 15 orang, lebih sedikit dari yang diekspektasikan. Rundown acara harus diubah, mau tidak mau, menyesuaikan kehadiran peserta dari keberangkatan kedua datang esok harinya.

Malam itu mendung, tetapi rintik hujan tidak turun sama sekali. Rembulan dan bintang tertutup di balik awan. Cahaya hanya berasal dari lampu halogen yang mendapat energi dari genset. Peserta mengisi acara bebas dengan caranya masing-masing. Ada yang bercengkerama, ada yang berusaha menyalakan api unggun, ada yang bermain musik, dan sebagainya. Di tengah kesibukan masing-masing ini, tiba-tiba saja semua mendadak gelap, hanya kobaran api unggun yang memberikan pelita di tengah kegelapan. Ternyata genset mengalami masalah. Tuhan memang baik, di tengah kegelapan ini perlahan-lahan mendung menipis dan memberikan ruang bagi purnama untuk berbagi cahaya.

Sabtu, 25 Mei 2013

Pagi pun tiba. Peserta yang beragama muslim dibangunkan untuk melaksanakan sholat subuh. Begitu matahari terbit, timbul sedikit kekecewaan di hati saya. Sang putri raja bersembunyi di balik kabut tebal, seakan malu untuk kami lihat pesona dan keindahannya. Saya hanya bisa berharap di siang hari nanti kabut menghilang.

Acara pada hari Sabtu dimulai dengan senam pagi bersama. Salah satu tema dari iScape adalah nostalgia, sehingga banyak acara yang didesain sedemikian rupa agar mirip dengan kehidupan di SMA Taruna Nusantara. Senam pagi dipimpin oleh Dena K.W. TN20, dan rupanya semua peserta dan panitia tidak ingat semua gerakan. Senam ini pun menjadi sebuah hal yang menyenangkan, karena kami mengingat-ngingat kembali bagaimana gerakan senam. Sembari tetap saja melaksanakan gerakan-gerakan yang mungkin tidak ada.

Selanjutnya panitia mengadakan permainan dodge ball. Permainan ini berhasil menarik perhatian peserta, karena semua memainkan dengan gembira. Permainan berakhir dengan semua merasa puas dan satu korban luka-luka. Rupanya bambu yang digunakan untuk menjadi pembatas lapangan dapat menjadi berbahaya. Segera saja korban luka-luka ini dievakuasi ke dokter terdekat untuk mendapatkan perawatan.

Khas TN lainnya yang kami lakukan adalah pengibaran bendera. Pengibaran dan penurunan bendera digilir tiap graha dari 5 graha, yaitu Graha 1, Graha 2, Graha 3, Graha 4, dan Graha Seroja. Walau penaikan dan penurunan bendera berjumlah tiga kali saja, sehingga tidak semua graha kebagian, tetapi tergambar rasa haru dan bahagia di seluruh peserta.

Pengibaran bendera usai, dan waktunya makan pagi. Tak lupa apel makan pagi layaknya ketika masih berada di SMA, baris per graha dan memberikan laporan kepada pemimpin apel. Anak-anak kecil dari kampung Cibuluh mulai berdatangan dan kami membagikan makanan yang berlebih kepada mereka. Entah siapa yang memancing, obrolan bernuansa nostalgia mulai terdengar. Karena semua peserta dapat memasuki dan mengerti area percakapan ini, makan pagi ini pun seperti menjadi sebuah forum nostalgia, semua angkatan berbagi pengalaman lucu ketika masih menjadi siswa.

Acara kemudian dilanjutkan dengan berjalan-jalan keliling desa. Sayangnya, putri raja terlalu malu untuk menunjukkan keelokan parasnya. Siang hari ini pun kabut belum juga menipis. Kami hanya berkeliling kebun-kebun bersama anak-anak kecil. Yang paling gembira ketika jalan-jalan ini adalah para fotografer. Walau background pemandangan tidak ada, tetapi kegembiraan peserta dan indahnya perkebunan berhasil membuat mereka seperti anak kecil dengan mainannya.

Di tengah-tengah perjalanan, saya mendapat kabar keberangkatan kedua telah sampai di tempat camping. Saya segera menyambut peserta yang baru datang. Peserta sudah lebih dari 30 orang. Ketika mereka sampai matahari telah bergeser dari atas kepala, dan sudah saatnya untuk makan siang. Tidak lupa, apel makan siang pun dilaksanakan dilanjutkan dnegan kegiatan kreatif mandiri.

Pukul 16.00 kegiatan kreatif mandiri telah usai. Kabut semakin tebal dan udara menjadi semakin dingin. Beberapa peserta mulai menyalakan api untuk menghangatkan diri. Lintas TN sudah siap untuk dimainkan, dan panitia mulai mengatur peserta. Graha 1 dan graha 3 disatukan, begitu juga dengan graha 2 dan graha 4, sedang graha Seroja menyebar. Lintas TN ini terdiri dari beberapa permainan, diantaranya adalah berenang di danau sejauh 25 meter, makan kerupuk, merayap, berguling, dan lari tiga kaki. Walau hanya dua kelompok, sepertinya para peserta berhasil menemukan kegembiraan pada lomba ini, yaitu kegembiraan berkompetisi.

Malam pun tiba. Kabut bukannya menghilang, malah sekarang ditambah dengan turunnya rintik-rintik hujan. Cuaca ini mirip dengan kondisi hati para panitia. Seharusnya malam minggu dijadikan waktu untuk menyalakan api unggun dan bakar-bakar ikan bersama. Cuaca tidak mendukung sama sekali.. Akhirnya pembakaran ikan diserahkan kepada penduduk desa, dan kami menunggu ikannya matang di rumah pak RW.

Minggu, 26 Mei 2013

Minggu pagi, waktu yang biasa untuk orang bermalas-malasan. Terlebih di pagi buta, pukul 02.00 WIB ditayangkan Final Liga Champion, yang tentu saja penggila bola tidak akan melewatkan tontonan tersebut, termasuk penggila bola yang mengikuti iScape. Waktu senam pagi pun menjadi sangat molor, yang lelah bergadang. Senam pagi pun dilaksanakan. Seperti hari sebelumnya, adanya orang baru menyebabkan gerakan senam berubah lagi. Ada beberapa yang dimasukkan, dan ada beberapa yang ditiadakan. Kemudian dilanjutkan dengan dodge ball, dan yang kali ini lebih seru karena sudah mulai memakai gerakan tipuan dan taktik sederhana.

Setelah puas bermain dodgeball, salah seorang peserta berinisiatif memulai permainan werewolf. Permainan ini benar-benar membuat semua menjadi akrab. Veterina Nosadila TN16 yang terlihat pendiam saja menjadi aktif dan lebih mengenal adik-adik angkatan 19 dan 20. Semua peserta bergembira karena bertambah lagi ingatan orientasi kekeluargaannya di sini.

Hal-hal yang terjadi selanjutnya adalah hal-hal yang biasa. Persiapan pulang, kurvey, membereskan tenda, apel cuti, dan pulang. Tidak lupa ketika apel cuti, penyerahan hadiah bagi juara Lintas TN dan menyanyikan lagu Prasasti.

Setelah apel dan foto-foto sejenak, saatnya kami mengucapkan perpisahan kepada Kampung Cibuluh. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya selaku ketua panitia tentu saja senang jika peserta senang, dan kecewa ketika peserta kecewa. Saya tidak mengetahui bagaimana isi hati tiap-tiap peserta, yang saya tahu hanya beberapa orang yang mengutarakan kepada saya bahwa mereka senang dengan acara ini. Bahkan ada yang bilang bahwa acara ini kurang lama!


Penulis :  Kharisma S.D.P TN17

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s