Pengabdian Masyarakat

Kunjungan ke TMP Kusuma Negara

Cuaca sore itu terbilang cerah, mengingat hari ini, 10 November 2011 adalah satu hari di musim penghujan. Langit kota Yogyakarta dan sekitarnya setiap hari diselimuti awan mendung, dan juga hujan yang terus turun, tetapi untungnya tidak untuk hari ini. Berbekal enam keranjang bunga mawar serta semangat hari pahlawan, saya dan sekitar 15 anggota Ikastara Cabang Yogyakarta mengunjungi Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara.

Acara sore hari itu cukup berbeda dengan kunjungan ke TMP yang dulu pernah saya lakukan ketika masih duduk di bangku SMA. Kali ini tak ada baris-berbaris, penghormatan kepada arwah pahlawan yang dipimpin dengan aba-aba, maupun upacara. Tetapi tentu saja tetap dengan rasa hormat dalam hati terhadap para pahlawan yang tak kalah besarnya dengan saat SMA dulu.

TMP Kusuma Negara sangat bersih dan rapi, dengan juru kunci makam sebanyak 38 orang. Terdapat pelataran yang biasa digunakan untuk upacara. Sebenarnya, juru kunci makam mempersilahkan kami melakukan upacara jika jumlah kami lebih dari dua puluh orang. Tetapi karena kurang dari 20 orang, kami tidak melakukan upacara dan langsung diarahkan menuju empat makam yang terlihat berbeda dengan yang lain, yaitu makam Hj. Siti Alfiah Soedirman, Jendral Soedirman, Jendral Oerip Soemohardjo, dan Menteri Soepeno. Keempat makam tersebut dibangun sedikit lebih tinggi dari makam lain, beralaskan lantai, dan berlangitkan atap.

Setelah melepas alas kaki masing-masing, kami duduk melingkar, kemudian dipimpin oleh Kak Yosefina Yustiani kami memulai acara sore hari itu. Tidak lama memang, hanya sekitar 30 menit kami berdoa dan sedikit berbincang tentang semangat kepahlawanan. Dalam 30 menit yang singkat itu pula kami mencoba “menyegarkan” kembali semangat kebangsaan, kejuangan dan kebudayaan yang kita hayati di bangku SMA dulu. Bang Cornelius Ferdian dan Bang Enade Perdana berbicara tentang betapa besar jasa-jasa para pahlawan, dan tanpa jasa mereka, tentu keadaan kita tidak semudah sekarang. Bang Cornelius Ferdian berkata bahwa kita yang tidak pernah dijajah, tidak akan pernah benar-benar mengerti bagaimana rasanya terjajah, dan hal inilah yang sering kali membuat manusia merdeka lupa bersyukur atas kemerdekaan yang mereka punya, dan juga lupa berterima kasih kepada pejuang yang berjasa atas kemerdekaannya tersebut.

Setelah itu, kami mulai bersama-sama menabur bunga. Terlihat pada saat itu banyak pengunjung yang sedang melakukan kegiatan yang sama, sehingga suasana sore di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara tampak sangat ramai. Enam keranjang mawar pun akhirnya habis, dan kami mulai berjalan keluar area makam. Acara sore itu diakhiri dengan kegiatan wajib, yaitu berfoto bersama 🙂

Senang sekali rasanya, setelah meluangkan sedikit waktu di sela-sela kesibukan sehari-hari, untuk sekedar bersama-sama membangkitkan kembali semangat kepahlawanan. Tentu saja satu jam dalam setahun bukanlah waktu yang banyak untuk kita sejenak merenungi kembali jasa pahlawan, dan tentu saja sangat tidak sebanding dengan perjuangan mereka yang telah mengorbankan nyawa untuk Negara.

Meneruskan perjuangan pahlawan tidaklah harus dengan mengangkat senjata. Berkarya dengan semua yang kita miliki, di bidang kita masing-masing adalah cara yang tepat untuk meneruskan perjuangan para pahlawan. Selamat Hari Pahlawan. Mari bersama-sama kita bekerja dengan keras, belajar dengan tekun, dan memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara, dan dunia.

Anindita Hapsari, Ikastara Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s